Dewi Puspa Indah Ajukan Rehab ke Majelis Hakim

Dewi Puspa Indah Ajukan Rehab ke Majelis Hakim Meski dalam kondisi hamil, Dewi Puspa Indah taat mengikuti persidangan. (foto: slamet)

Sidang kasus wanita hamil yang kedapatan membawa sabu.

SURABAYA – Dengan wajah tertunduk lesu penuh harap dan mata berkaca-kaca, tergurat di wajah Dewi Puspa Indah, saat mengikuti sidang lanjutan yang menjerat dirinya akibat dugaan kepemilikan sabu. Sidang dengan agenda pembacaan pembelaan (pledoi) digelar di Ruang Garuda II Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Kamis (12/10/2017).

Dewi Puspa Indah yang duduk di kursi terdakwa dengan seksama mendengar kalimat per kalimat yang diucapkan penasehat hukumnya di persidangan, dengan majelis hakim yang diketuai Timur Pradoko SH MH.

Dalam persidangan, upaya penasehat hukum agar kliennya, lolos dari jeratan hukuman penjara dengan menyampaikan pledoi. “Semoga ini tidak menggoyahkan pertimbangan Majelis Hakim maupun Jaksa Penuntut Umum (JPU) untuk menegakkan prinsip adil dan teguh, pada ketentuan Undang-Undang sebagai dasar pedoman dalam memutuskan perkara,” ujar penasehat hukum terdakwa.           

Dalam perkara ini, lanjut penasehat hukum, semoga Majelis Hakim maupun JPU, mengutamakan program pemerintah bahwa pelaku penyalah guna narkoba adalah musuh negara yang patut diadili guna menimbulkan efek jera.

Di awal pembacaan pledoi, Penasehat Hukum terdakwa menyatakan, secara yuridis dakwaan jaksa tidak sependapat dengan kami, karena kesaksian dua anggota kepolisian di persidangan dengan barang bukti yang ditemukan seberat 0,012 gram adalah sisa pakai.

Menurut penasehat hukum, terdakwa tidak tepat dengan dijerat pasal 112 namun rehabilitasi dan terdakwa hanya pengguna bukan penjual. Sedangkan diduga bandarnya adalah sang suami yang ditangkap sebelumnya.

Sedangkan saksi lain, yaitu Usman, tetangga terdakwa, dalam keterangannya, saat berkunjung ke suami terdakwa di Lapas Medaeng, menyampaikan maksud sang suami terdakwa, meminta kepada Usman bahwa isi surat dari sang suami bisa disampaikan ke persidangan sebagai keterangan.

Saksi lain, Marzuki yang juga tetangga terdakwa, saat persidangan memberikan keterangan, bahwa sepeda motor Honda Vario yang dipakai terdakwa saat ditangkap, di dalam jok sepeda motor tersebut terdapat barang bukti sabu adalah milik Marzuki yang digadaikan kepada terdakwa.

Masih menurut penasehat hukum terdakwa, dalam BAP diterangkan, ditemukannya sekantong plastik diakui kebenarannya berisi amphetamine dan hasil tes laboratories, urine 20 mm terdakwa dinyatakan positif, dan terdakwa menyesali perbuatannya, serta menyimpulkan jika kliennya tidak bersalah.

Pokok lainya yang disampaikan, apa benar terdakwa dituntut pasal 112 ayat 1, barang bukti sabu seberat 0,012 gram bagi terdakwa kalimat yang pas untuk mengantarkan terdakwa pada rehabilitasi. Di sisi lain ada hak terdakwa, yang memiliki pertanggung jawaban di mata hukum.

Alasan Penasehat Hukum terdakwa, JPU hanya memaparkan kronologi, mendakwa atau menuntut terdakwa tanpa alasan yang benar, maka dakwaan JPU perlu dipertimbangkan oleh Majelis Hakim, karena terdakwa sopan dan jujur mengakui memakai narkoba sejak 1,5 tahun yang lalu.

“Terdakwa berjanji tidak memakai narkoba lagi dan keadaan terdakwa saat ini dalam keadaan hamil,” ujar dia.

Permohonan lain yang dimohonkan, mengembalikan dompet, buku tabungan BCA atas nama Sutinah, sepeda motor Honda jenis Vario, dan meminta biaya perkara dibebankan pada negara.

Di ujung persidangan, Majelis Hakim memberikan kesempatan kepada JPU atas pembelaan tersebut. Namun JPU Dedy dari Kejaksaan Negeri Surabaya menyatakan tetap pada tuntutannya. Sidang dilanjutkan pekan depan dengan agenda pembacaan putusan majelis hakim. (slamet haryono)